[#53] [Story] Chronicle of Roldia 11 : Tiga Pria tak Berperasaan

Aku, Kakak, Abdul dan Edgar berlari ke dalam Istana. Tepatnya menuju aula singgasana Ibu. Edgar lalu menarik sebuah tuas dekat kursi kebesaran Ibu, Kursi itu lalu bergeser menunjukkan sebuah jalan rahasia.

Kami lalu masuk ke dalamnya.

Kursi singgasana Ibu perlahan bergeser menutup lubang. Hingga gelap kami rasakan.

“Edgar.”, bisik kakak.

Sebuah api bulat muncul dari telapak tangan Edgar. Api itu berputar mengelilingi kami berempat menciptakan penerangan yang cukup.

Hatiku masih sakit membayangkan mayat Ibu yang kami tinggalkan.

“Kakak, Ibu… apakah dia…?”, Kakak diam.

“Mereka tidak akan mengubur Ratu dengan hormat. Mereka akan menggantung jenazah Ratu di Aula Asilon, menyebarkan berita duka ini ke seluruh Roldia, lalu membakar dan membuang abunya di pembuangan limbah.”,

PLAK, kutampar wajah Abdul sekeras yang kumampu. Sakit hatiku melihat ekspresinya yang datar.

“Dia benar.”, Edgar menimpali. Sementara kakak masih terdiam.

“LALU KENAPA KALIAN?”, air mataku tumpah ruah. Lagi.

“Membawa jenazah Ratu akan memperlambat gerakan kita. Ratu sudah mati. Jasanya akan dikenang. Tidak penting bagaimana mayatnya nanti akan diperlakukan.”, jawab Abdul datar.

Kuangkat tanganku hendak menampar Abdul untuk yang kedua kalinya.

“CUKUP NINA!”, sentak kakak sambil menggenggam pergelangan tanganku mencegahku untuk menampar Abdul.

“TIDAK HANYA KAU YANG BERSEDIH DI SINI! KAMI SEMUA SAMA! PARA PEJUANG DI LUAR SANA JUGA BERPIKIRAN SAMA! INI PEPERANGAN! SELAMA NYAWA MASIH DI DADA, KESEMPATAN MENANG AKAN SELALU ADA. APA YANG DIKATAKAN ABDUL SEMUANYA BENAR! HADAPILAH!”, teriak Kakak padaku.

Hatiku sakit bagaikan dicabik seribu parang. Aku berbalik. Berlari. Menangis. Meninggalkan tiga orang pria tak berperasaan di belakangku.

“NINA!”, teriak kakak. Aku harus mendapatkan jenazah Ibu. Aku harus memakamkannya dengan layak.

ZAP! Abdul yang menguasai jurus-jurus ninjutsu tiba-tiba muncul di hadapanku.

“Maafkan aku, Tuan Puteri.”, bisiknya pelan.

BUK! Nyeri kurasakan di ulu hatiku. Pandanganku menghitam. Kesadaranku menghilang.

Abdac

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s