[#13] [Bisnis] Cita-Cita Sang Pengkhayal

Cita-Cita Setinggi Langit

Sewaktu aku SD, guruku sering mengatakan sebuah kata-kata mutiara yang berbunyi,

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit!”,

Jujur, saat itu aku tidak mengerti apa yang dimaksud sebenarnya dari kata-kata mutiara itu. Yang kumengerti dari sepenggal kalimat itu hanyalah,”Jangan malu untuk menyebutkan cita-citamu di depan kelas. Karena setiap orang berhak bercita-cita.”.

Lalu kenapa aku tidak mengerti? Itu karena, guruku yang mengatakannya-pun belum tentu mengetahui arti yang sebenarnya.

Bercita-cita tinggi tentu merupakan hal yang positif. Banyak novel dan film yang mengangkat kekuatan dari sebuah cita-cita. Pancangkan cita-citamu di titik tertinggi khayalmu lalu kemudian berusahalah! Inilah kunci sukses dari banyak orang-orang yang kini duduk nyaman di puncak piramida hidup.

Menjadi Pengkhayal

Cita-cita yang kita butuhkan untuk berhasil tentu saja cita-cita yang sangat besar. Dimana langit menjadi batasnya, dimana luasnya alam semesta menjadi pembandingnya. Memancangkan cita-cita di titik khayal tertinggi adalah satu-satunya cara. Tanpa ragu, tanpa bimbang. Penuh dengan keyakinan kalau cita-citanya bukanlah sesuatu yang mustahil untuk digapai.

Alkisah

Ada satu kisah nyata tentang cita-cita.

Di sebuah sekolah dasar, belajarlah seorang siswa yang bercita-cita tinggi. Suatu hari, gurunya menugaskan murid-murid untuk menuliskan cita-citanya dalam bentuk gambar. Maka saat murid-murid lain menggambarkan cita-citanya dalam bentuk pilot, polisi dan sebagainya. Anak ini malah menggambar sebuah rumah sangat besar di tengah lapangan golf yang dilengkapi dengan bandara pesawat dan juga arena pacuan kuda.

“Apakah sebenarnya cita-citamu, saya tidak mengerti?”, tanya si Guru.

“Aku ingin memiliki sebuah rumah besar yang dilengkapi dengan lapangan golf, bandara udara dan juga arena pacuan kuda.”, jawab sang anak polos.

“Itu mustahil! Gantilah dengan cita-cita yang lain!”, hardik Guru tersebut.

“Saya tidak mau.”,

“Ganti, atau saya berikan kamu nilai F!”. Karena anak ini tidak mau mengganti cita-citanya, maka si Guru memberikan anak ini nilai F.

Puluhan tahun kemudian, Si Guru diundang salah satu pebisnis besar untuk studi tour dengan mengunjungi rumahnya. Guru ini dan murid-muridnya terkagum-kagum dengan luasnya rumah sang pebisnis. Rumah itu bahkan dilengkapi dengan arena pacuan kuda, lapangan golf pribadi dan juga bandara mini dengan beberapa heli dan pesawat pribadi.

Di dalam rumah tersebut si Guru bertemu dengan sang pebisnis pemilik rumah. Mereka berkenalan lalu berjalan mengelilingi rumah mewah itu. Hingga sampailah rombongan study tour ini pada sebuah lukisan anak-anak dengan nilai F besar berwarna merah.

“Lukisan yang indah.”, puji sang guru.

“Benar.”, jawab si pebisnis.

“Lalu, guru bodoh mana yang berani memberikan nilai F pada lukisan seindah ini?”, tanya sang Guru.

“Guru itu adalah kau. Itu adalah lukisanku puluhan tahun yang lalu saat aku diminta untuk melukiskan cita-citaku. Aku ingin berterima kasih kepadamu. Tanpa nilai F darimu, mungkin aku tidak akan berusaha keras untuk membuktikan padamu kalau cita-citaku adalah hal yang tidak mustahil. Dan kini kau telah melihat bukti itu.”, jawab Pebisnis.

Dari sebuah khayalan, lahirlah cita-cita, dari cita-cita lahirlah tujuan, dari tujuan lahirlah keberhasilan.

Iklan

16 thoughts on “[#13] [Bisnis] Cita-Cita Sang Pengkhayal

  1. Aduh cara balas dendamnya bagus dari satu sisi, tapi melukai sang guru dari sisi yg lain..Guru dan murid hari itu pasti sama-sama dapat pelajaran besar 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s