[#12] [Keluarga] Persahabatan yang Kekal

Beberapa waktu lalu terjadi percakapan seru antara empat sekawan. Aku, Putra, Bintang dan Rido. Kami membicarakan tentang hubungan antara kerja keras, ibadah dan kesuksesan.

Aku

Aku keukeuh dengan pendapatku kalau ikhtiar seseorang dinilai dari kualitas ibadahnya. Namun soal bekerja keras hingga kantung mata menghitam, itu adalah kewajiban yang harus semua lelaki lakukan. Tanpa kantung mata, seseorang tidak mungkin meraih kesuksesan.

Putra dan Bintang

Ini yang gak nyambung. Mereka keukeuh kalau Bill Gates dan Steve Jobs tidak memiliki kantung mata dan mereka sukses. Bagi mereka, bekerja tidak perlu terlalu keras, kesehatan lebih penting.

“Trus kenapa kalian merokok dan tidak pernah berolahraga?”, mereka nyengir saja saat aku menanyakan pertanyaan ini.

Rido

Kalau Rido berpikir berbeda, baginya malas-malasan bisa juga disebut Ikhtiar. Karena masing-masing individu-lah yang mengerti diri mereka sendiri. Disebut pemalas oleh orang lain tidak masalah yang penting diri kita sudah merasa kalau yang kita lakukan adalah benar.

“Lalu apakah kamu puas dengan etos kerjamu?”, aku bertanya.

“Tergantung, kadang puas kadang tidak.”, jawabnya.

“Kebanyakan?”, sergapku

“Kebanyakan tidak puas. Kalau kita cepat merasa puas dengan cara kerja kita, bagaimana kita bisa memperbaiki diri dan menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari.”, jawab Rido cepat. Aku speechless. LAGI…

Empat Sekawan

Aku dan Rido sudah berteman sejak SD. Rumah kami tidak jauh. Kami bertemu lagi di SMA. Dan berlanjut hingga kini.

Aku dan Rido bertemu Bintang sejak SMA. Orangnya pendiam. Lebih mirip dengan tembok. Namun dibalik wajah garang dan bibir tembok itu, hatinya mendayu syahdu. Paling mudah menangis di antara kami bertiga.

Aku, Bintang dan Rido, bertemu Putra di bangku kuliah. Bintang, Rido dan Putra kuliah di kampus yang sama. Putra yang paling Islami di antara kami semua. Ahli puasa, rajin mengaji namun soal Sholat jangan tanya… Selalu diakhirkan.

Unik

Kebanyakan orang menilai kami berempat mempunyai ikatan yang unik. Beberapa kali bertengkar. Saling rebut pacar. Berpisah. Bentrokan masal. Namun akhirnya bersatu kembali.

Aku cenderung yang paling tidak mau diam. Cerewet, banyak bicara, tidak tahu malu malah sedikit gila.

Kalau Bintang adalah kebalikannya aku. Jika aku utara maka Bintang selatan, jika aku negatif maka bintang positif.

Kalau Putra adalah objek penderita, setelah aku tentu saja. Tanpanya ngumpul nggak akan ramai. Kalau janjian, dia pasti yang pertama datang. Kau boleh mendebatnya soal apapun kecuali soal fiqh Islam, pembicaraan tidak akan selesai. Perdebatan akan seperti perang besar. Jujur, kami bertiga selalu mencoba menghindari perbincangan soal Islam bila dia datang. Tapi Putra selalu yang memancing duluan. Baginya topik Islam adalah hal yang lebih menarik daripada apapun.

Ada tips bagi yang baru mengenal orang bernama NPWP (Naufal Putra Winda Perdana) <= Kalau aku tak salah mengingat.

Jangan pernah menjawab bila muncul pertanyaan dari Putra seperti,

“Menurut kalian, akan lebih baik x atau xx dalam Islam?”,

Walaupun dia mengawali pertanyaan dengan menurut kalian, tapi sebenarnya dia sangat pintar sehingga sebenarnya dia mempunyai jawabannya sendiri. Dia akan terus bertanya, mendebat, dan terus mendebat hingga kalian menyerah atau kalian dan Putra pulang dengan muka masam.

Soal Rido, dia seperti pemimpin dari segerombolan binatang. Dia adalah pemimpin, berjiwa pemimpin, dan selalu ingin memimpin. Berdebat dengannya akan selalu membuatku speechless pada akhirnya. Dia ahli mendebat. Dia vs Putra? Jangan tanya, tidak akan selesai sampai kiamatpun. Bila itu terjadi, aku dan Bintang lebih memilih menghindar sambil menikmati kopi dan membuka pembicaraan sendiri.

Aku menikah pertama kali, 14 Februari 2010. Rido menyusul setahun kemudian di Bulan November. Bintang Insya Allah Bulan Juni tahun ini. Dan Putra, entah kenapa… terbesit di benakku kalau ada masalah antara dia dan kaum hawa. Ada sesuatu dalam diri dia yang membuatnya dijauhi wanita. Tapi kami bertiga yakin, siapapun yang bersedia menerima Putra, niscaya ia adalah wanita paling beruntung di dunia.

Kini, aku dan Rido berbisnis bersama, Putra di Jakarta dan Bintang bekerja di pabrik tak jauh dari rumahnya. Kami sahabat dan hingga kini kami masih bersama. Jika ada persahabatan yang kekal, kuingin itu adalah persahabatan kami.

Karena kami berempat bukan sekedar sahabat. Kami adalah keluarga.

Iklan

19 thoughts on “[#12] [Keluarga] Persahabatan yang Kekal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s