[#11] [Story] Terkaya

Cerpen ini aku persembahkan sebagai do’a. Cerpen ini mencerminkan apa yang aku ingin anakku pikirkan kelak aku meninggal dunia. Dan ini juga merupakan khayalku tentang jenjang karirku.

Selamat membaca… ^_^

Kutatap pusara di hadapanku. Tertulis di atasnya tanggal lahir dan kepergianmu. Air mata menetes dari pelupuk mataku. Ingin aku berkata tidak rela ditinggalkan olehmu, namun kau selalu berkata kuharus rela melepas apapun yang kumiliki termasuk sosok sempurnamu.

Kelahiranku

Aku tidak ingat bagaimana aku lahir. Dan aku tidak ingat bagaimana keadaan kita saat itu. Namun bunda selalu bercerita apa yang kau korbankan untukku. Tidak hanya keringat dan air mata. Kau juga mengorbankan kehormatanmu demi diriku. Anak pertamamu.

Masa Kanak-Kanakku

Kau mengajarkan aku Al-Qur’an bahkan sebelum aku dapat dengan lancar memanggil namamu. Kau bisikkan aku shoalawat tiap kali aku rewel hingga habis kesabaran Bunda. Saat orang-orang berkata aku rewel dan nakal, kau tetap yakin aku adalah anak yang pintar dan cerdas.

Umurku belum genap 5 tahun. Separuh Al-Qur’an telah kuhafal. Itu semua berkat kerasnya kau mendidikku. Kau tidak pernah memarahiku. Kau tidak memarahiku karena aku mengotori pakaian dan rumah kontrakan mungilmu. Kau tidak memarahiku setiap aku merusakkan benda-benda kesayanganmu. Hanya satu hal saja yang menyebabkanmu memarahiku, Ibadahku.

Ayah, aku semakin mengerti keberadaan Illahi dan posisiNya di hati. Aku mengerti semua itu bahkan sebelum aku dapat menghitung sampai angka 100.

Ayah, kau bercita-cita tinggi. Menjadi orang terkaya di dunia hanya untuk membuktikan seorang Muslim bisa menjadi yang teratas, yang terdepan. Kau ingin membuktikan pada dunia bahwa seorang muslim bisa berkarya sekaligus berdamai. Tapi ayah, lihatlah orang-orang yang mentertawakanmu. Mentertawakan cita-cita mustahilmu.

Kau selalu menekankanku untuk terus memposisikan Allah di kasta tertinggi, walaupun harta terus dan harus kau cari.

Aku berhasil menghafal seluruh Al-Qur’an. Usiaku pun baru 8 tahun. Itu sesuai dengan target awalmu. Target yang kau canangkan padaku saat aku masih dalam kandungan bundaku.

Karirmu menanjak perlahan. Rumah kontrakan telah berubah menjadi rumah milik pribadi. Ukurannya tidak besar namun cukup nyaman bagiku dan Bundaku. Motor bututmu yang kau panggil “Aki” telah berganti menjadi motor yang lebih segar, walaupun masih tergolong motor tua.

Masa Remaja

Bisnismu telah bergerak jauh, kini mobil dan truk telah kau miliki. Namun kau masih mempertahankan rumah mungil untuk ditempati. Alasanmu hanya satu, rumah ini masih nyaman untuk ditempati.

Sering adikku protes, kalau rumah ini terlalu kecil untuk keluarga besar kita. Namun kau hanya tersenyum dan berkata pelan,

“Nanti kau akan paham.”,

Aku memasuki masa-masa labil, namun Allah melindungiku, menjagaku, seperti halnya aku menjaga hafalanku hingga kini. Aku bergaul di lingkungan Pesantren. Ya benar, Pesantren milikmu. Disana pula aku bertemu pujaan hatiku yang kini telah membantuku untuk memberikanmu tiga orang cucu.

Dewasa

Aku semakin dewasa dan aku akhirnya menikah. Namun kau masih belum habis, bensinmu masih melimpah. Kau meninggalkan Indonesia menuju negara yang mungkin nantinya akan memusuhimu. Kau pergi ke Amerika.

Tanahmu meluas tapi tak satupun dari tanah itu kau akui menjadi milikmu. Kau terus mewakafkannya untuk Pesantrenmu. Pesantren mungil itu kini berubah menjadi sangat besar. Memiliki banyak sawah dan juga perkebunan. Bahkan di dalamnya tinggal banyak penduduk. Juga terdapat pasar. Pesantren yang menjadi sentra perekonomian warga sekitar.

Malah salah satu media mengakui pesantrenmu sebagai pesantren terbesar di dunia. Yang lebih mirip dengan sebuah pedesaan daripada sebuah pesantren ataupun sekolahan.

Di Amerika sana bisnismu membesar, sedangkan di Indonesia bisnismu berkembang bahkan saat kau tinggalkan. Terima kasih Ayah, kepercayaanmu padaku dan suamiku membuat kami tidak tega mengkhianati kepercayaan besar itu.

Saat Tubuhmu Menua

Kau memasuki TOP 500 Richest Man in The World versi majalah Forbes. Bahkan wajahmu pernah terpampang di majalah TIME sebagai Brightest Man of The Year. Ya, kau berhasil membuktikan pada dunia kalau muslim-pun bisa berbagi.

Kau berhasil mengubah serpihan gurun pasir di seberang sana menjadi sebuah kota yang memiliki perputaran ekonomi tertinggi di dunia. Dan tentu saja, tanpa judi di atasnya. Namun di kota besar itu kau hanya memilih untuk tinggal di rumah mungil. Tidak akan ada yang menyangka, kalau dirimu adalah orang yang membangun kota itu.

Dunia maya ramai membicarakanmu, mereka mengakuimu sebagai orang terkaya di dunia. Seandainya kau tidak seroyal itu untuk berbagi, mungkin hartamu sudah dua kali lipat melebihi kekayaan orang terkaya di dunia saat ini.

Kau mengerti dan kau paham kalau cita-citamu di dunia sudah tercapai dan kau pulang ke tanah air. Begitu sedihnya aku ketika melihat sosokmu di Bandara. Karena kuyakin sosok tua namun tegap itu sesaat lagi meninggalkanku. Karena cita-citamu yang dulu ditertawakan orang kini telah kau dapatkan.

Di Atas Pusaramu

Benar saja, hanya satu tahun pasca kepulanganmu engkau pergi. Engkau pergi saat kau tersujud di dalam Tahajudmu.

Ayah, lihatlah kini. Begitu banyak orang yang kehilanganmu. Begitu banyak orang yang menangisimu. Begitu banyak orang yang mengantar jenazahmu. Dan lihatlah helikopter-helikopter itu, capung-capung besi itu ingin meliputmu. Karena seluruh dunia kini tengah menangisimu.

Ayah, bagiku, kaulah manusia terkaya di alam semesta.

Iklan

9 thoughts on “[#11] [Story] Terkaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s