[#10] [Bisnis] Mengapa Orang Bodoh Selalu Menjadi Raja?

Balada Pasar Burung

Kemarin aku berbincang sebentar dengan temanku. Dia menceritakan padaku sebuah kisah yang cukup bagus. Begini ceritanya:

Di sebuah pasar burung terdengar percakapan antara penjual dan pembeli,

“Berapa harga burung-burung ini?”, tanya pembeli.

“Yang ini burung penari, harganya 100 dollar karena dia bisa menari.”,

“Yang ini burung penyanyi, harganya 200 dollar karena dia bisa bernyanyi.”,

“Yang ini burung serba bisa, harganya 300 dollar karena dia bisa bernyanyi dan menari.”,

“Kalau yang ini?”, tanya pembeli pada seekor burung.

“Oh… yang ini 1.000 dollar.”,

“Wah… mahal sekali, pasti dia punya banyak keahlian.”, puji si pembeli.

“Tidak, dia tidak bisa apa-apa. Bisa dibilang dia yang paling bodoh dibandingkan yang lainnya.”,

“Loh, kenapa kau jual begitu mahal?”, si pembeli penasaran.

“Karena dia adalah pemimpin dari burung-burung lainnya. Dialah yang memerintahkan burung penari untuk menari, burung penyanyi untuk bernyanyi, dan burung serba bisa untuk bernyanyi dan menari.”, jawab sang penjual.

Pentingnya Pemimpin

Kisah barusan menjelaskan pada kita semua akan pentingnya sosok pemimpin. Misalkan temanku, dia tidak bisa menjahit, dia tidak bisa mengobras, dia tidak bisa mempola kain bahkan diapun tidak bisa menjual. Dia tidak bisa apapun. Tapi dia memiliki sebuah konveksi.

Temanku itu bodoh, tapi dia adalah Raja.

Untuk menjahit dia menyerahkan semuanya pada pamannya, dan beberapa konveksi kecil lainnya. Urusan menjual, dia serahkan padaku, istriku, dan beberapa kawan-kawan lainnya. Lalu apakah di sini kami adalah atasan dan bawahan? Bukan! Kami adalah rekan bisnis.

Walaupun posisiku dan kawan-kawanku di sini adalah sesama rekan bisnis, tapi tanpa kami sadari temanku yang bodoh itu sering memerintah kami.

“Kang Jajang tolong bikin pola untuk 3.000 pcs baju anak sekarang.”, ujarnya pada salah satu pemilik konveksi.

“Siap, Rp.5.000,00 ya Kang Ido?”,

“Modalnya gak masuk kang, Rp.3.000,00 ajah! Pak Wawan udah setuju segitu kok.”, Pak Wawan adalah pemilik konveksi lainnya.

“Ok lah… Dibuat sekarang.”,

Tanpa kami sadari percakapan barusan yang sekilas seperti percakapan antara dua orang rekan bisnis. Namun bila diperhatikan lebih seksama dengan memperhatikan cara Kang Rido meminta dan cara Kang Jajang menjawab, maka akan terkesan seperti perintah seorang Raja pada Tangan Kanannya.

Lalu, apakah kami para rekan bisnisnya menyesali posisi kami? TIDAK. Karena kami membutuhkan seorang pemimpin yang dapat mengarahkan kami semua yang notabene merupakan Raja-Raja Kecil.

Sebuah Tanah Yang Dibagikan

Dulu, aku dan temanku pernah mengkhayalkan apa yang kami inginkan di masa depan. Seandainya aku ingin menjadi orang terkaya di dunia yang memiliki pondok pesantren terbesar di dunia dan bisa mensejahterakan orang-orang sekitarnya. Temanku, Putra namanya, mencita-citakan hal lain.

Dia bercita-cita untuk memiliki tanah yang luas. Nantinya tanah itu boleh dipergunakan dan dimanfaatkan oleh siapapun seakan-akan itu adalah tanah tanpa tuan. AKU PROTES!

“Lalu siapa yang mengatur hak-hak tanahnya?”, tanyaku.

“Allah!”, jawabnya singkat.

“Lalu apakah kamu mau bertanggung jawab bila terdapat persengketaan tanah di atas lahan yang Allah titipkan padamu? Apakah kamu mau menanggung semua dosa atas pertumpahan darah yang terjadi?”, dia bengong.

“Itu tanahmu Put… Mau bagaimanapun kamu harus meluangkan sedikit waktumu untuk mengatur tanahmu sendiri. Bila nanti hasil tanahnya untuk mereka semua ya silahkan… TAPI… untuk pembagian hak guna tanahnya tetap harus diatur. Karena manusia butuh aturan. Dan aturan dibuat oleh pemimpin yang membuat aturan. Tanpanya, akan terjadi gesekan aturan yang dibuat oleh masing-masing individu demi mengklaim tanah kamu.”, Putra mengangguk.

“Kan gak lucu, saling klaim tanah padahal itu tanah kamu.”, tutupku.

Mengapa Harus Orang Bodoh?

Aku hafal watak Rido. Orangnya pemalas dan selalu mencari jalan mudah. Bila ada tugas sekolah ataupun kuliah, dia selalu minta bantuan orang lain. Baik itu mencontek ataupun minta dikerjakan.

Dan pemikiran simpel inilah yang membuat usahanya perlahan menanjak. Donald Trump pernah berkata, “Seandainya saya adalah pemain baseball, maka saya akan selalu mengincar base pertama terlebih dahulu sebelum ke base kedua dan ketiga.”

Mengincar base pertama jauh lebih mudah daripada mengincar homerun dalam tiga kali kesempatan. Dan memilih jalan termudah dalam berbisnis adalah jalan sukses seorang Donald Trump. Karena, dia tidak pintar.

Nah… Apakah kita cukup bodoh untuk menjadi Raja?

Iklan

13 thoughts on “[#10] [Bisnis] Mengapa Orang Bodoh Selalu Menjadi Raja?

  1. Ya, saya juga selalu mengambil kesimpulan begitu. Tapi ternyata itu bukanlah bodoh. Karena sesungguhnya kecerdasan itu ada intelektual, emosional, spiritual, dll…
    Kepemimpinan itu memerlukan sebuah kecerdasan sosial emosional, jadi itu bukan namanya bodoh… πŸ˜€

    • hmm… bodoh ini mengacu pada keahlian. jadi misalkan seseorang yang berbisnis hiburan tapi tidak memiliki keahlian apapun di bidang hiburan. Dia hanya menyuruh orang lain yang memiliki keahlian tersebut untuk menghibur. gitu maksudnya zart…

      • betul sekali… kayak bos saya di kantor. ada rekan kerja yang suka protes, “disen gak bisa! nge print ga bisa! finishing aja gak bisa! bisanya cuman nyuruh sama marah2!”, hahaha

      • Itu artinya dia belum cukup ahli menyuruh orang lain, dong… Tapi yang jelas dia berhasil dengan keahliannya –> menyuruh dan mendapatkan yang dia mau. Eniwey, semua orang bisa skill seperti ini, bahkan yang tidak punya kekuasaan. Hanya butuh latihan. Semestinya si bos di kantor itu memiliki kemampuan lebih karena dia punya sesuatu yang lebih: kekuasaan.

  2. hmm…jadi sepertinya itu bukan bodoh, mungkin si raja itu bodoh di suatu hal, tapi ia pintar di hal lainnya
    sedangkan pekerja itu pun pintar di suatu hal, tapi bodoh di hal lainnya
    ya, intinya pintar dan bodoh itu sangat relatif

    • ‘bodoh’ dalam motivasi bisnis sebenarnya adalah sebuah istilah umum untuk mengartikan kesederhanaan pikiran. selain istilah ‘idiot’ dan ‘bodoh’ ada juga istilah ‘pemalas’ yang memiliki arti relatif sama.

  3. sepertinya saya gagal dalam memimpin rekan kerja saya bang 😦 apakah karena saya bodoh juga heuffffff

    semangat saja lah – mungkin sepertinya saya juga butuh orang yang memimpin saya nich πŸ˜€

  4. saya baca dari awal sampai akhir..isinya adalah motivasi positif..
    sebetulnya tidak perlulah kita menjadi bodoh..tapi jadilah orang yang selalu merasa bodoh…good sharing, thanks Bro! πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s