[#7] [Bisnis] Mark Up Budaya yang Dibudidayakan di Indonesia

Bisnis skala apapun dan bisnis jenis apapun kini tidak terlepas dengan Beauty Contest atau lebih dikenal dengan sebutan Tender. Sebuah tender seringkali sampai pada kita melalui seorang perantara. Mereka menyebut diri mereka sebagai Freelance Marketing, namun beberapa orang menyebut mereka sebagai via, beberapa orang yang lain menyebut mereka sebagai Broker Tender.

Broker Tender

Broker tender adalah orang yang akan sering kita jumpai ketika berbisnis. Dan pada umumnya seorang broker tender memiliki sebuah kekurangan yang bagiku sangat fatal. Beberapa dari broker tender acapkali melakukan mark up untuk meraih keuntungan pribadi dan tentu saja dia meminta kesediaan kita untuk memuluskan jalannya.

Mark up  secara bahasa adalah menaikkan harga, dan itu belum digolongkan sebagai pelanggaran moral yang biasa kita sebut dengan korupsi. Namun mark up akan digolongkan sebagai perbuatan korupsi seandainya pelaku mark up adalah karyawan dari perusahaan yang memesan. Seorang karyawan tidak berhak meminta komisi apapun dari setiap transaksi perusahaannya.

Mark up yang dilakukan oleh Pejabat aparatur negara sudah pasti digolongkan sebagai korupsi karena anggaran yang dia gunakan adalah anggaran milik negara. Terlebih lagi, seorang petugas aparatur negara sudah mendapatkan gaji dari pekerjaannya dalam melayani masyarakat.

Seandainya Mereka Ingin Jujur

Seorang broker yang jujur boleh melakukan mark up. Namun untuk itu ada beberapa syarat dan kondisi tertentu.

1. Dia memiliki kwitansi pribadi. Dalam artian broker ini memposisikan dirinya sebagai penjual dan bukan penghubung. Biasa disebut dengan makloon.

2. Tidak dijanjikan komisi oleh pihak manapun. Jika pemesan sudah menjanjikan komisi  atas jasa si broker maka dia tidak berhak meminta komisi dari produsen. Terlebih lagi jika dia melakukan mark up harga.

Tetes Embun Budaya Mark Up

Mark up bekerja seperti layaknya tetes embun, dia tidak hanya membasahi pohon teratas, namun akan menetes membasahi daun-daun di bawahnya sebelum menyentuh tanah. Mark up tidak hanya menguntungkan si broker namun juga menguntungkan bagi pihak-pihak lain yang terlibat.

Semakin banyak pihak yang terlibat maka mark up yang dilakukan akan semakin tinggi dan tidak realistis.

Di Mulia Rencana, mark up ataupun tindakan tidak jujur apapun dilarang. Dan aku begitu hati-hati ketika berurusan dengan broker tender mengingat aku ingin mendinginkan perut anakku dengan uang halal. Ini beberapa contoh percakapan yang kulakukan ketika berurusan dengan broker tender (sengaja/tidak sengaja).

Ini percakapan awal saya dengan salah seorang Broker yang ingin bekerjasama.

Broker (B): Pak, kalau saya serahin proyek ini sama bapak, saya dapat berapa?

Yusuf (Y): Nggak tahu, tergantung bagi hasilnya aja.

B: Ya udah, gimana kalau saya minta 600 ribu aja di kwitansi bapak. Katakanlah itu hak saya sebagai ‘marketing‘.

Y: Boleh, tapi kwitansinya kwitansi anda dan bukan kwitansi saya.

B: Loh kok gitu?

Y: Saya jual lepas aja sama anda, ntar anda yang jual lagi ke sana. Itung-itung anda makloon ke saya.

B: (Bingung)

B: Ya udah kalau bagi hasil saya dapat berapa?

Y: 50:50 tapi saya tidak menjanjikan jumlah yang besar. Tergantung untung yang saya dapat nanti.

B: (Setelah berpikir sejenak) Ya udah, deal ya pak.

Saya tidak kenal dia namun dia tiba-tiba datang begitu transaksi selesai.

B: Pak, saya minta hak saya.

Y: Hak apa?

B:  Proyek kemarin. Saya bagian pengadaan barang di perusahaan itu.

Y: Tapi saya gak pernah bertransaksi dengan Bapak. Paling dengan Pak Fulan.

B: Tapi saya yang menandatangani surat pengajuan proyek Pak. Itu juga karena Pak Fulan menjanjikan komisi buat saya.

Y: Tagih saja Pak Fulan.

B: Justru menurut Pak Fulan saya disuruh nagih ke Bapak. Bapak kan Bosnya Pak Fulan.

Y: Bapak sudah diboongin, Pak Fulan itu konsumen saya. Saya cuman ketemu dia dua kali, pada waktu pemesanan dan pengambilan barang. Coba aja Bapak telpon Pak Fulan sekarang.

B: (ngedumel sesuatu) Tuuut Tuuuut Tuuuut (telpon ditutup tanpa mengucap salam)

Seseorang mendatangi saya karena Brokernya tidak dapat menjadi penghubung yang baik. Broker pemesan ini tidak dapat menjadi jembatan komunikasi antara saya dan pemesan.

B: Pak gimana nih? Katanya mau beres hari ini.

Y: Wah, dikerjain aja belum pak!

B: Kok bisa gitu pak?

Y: Bapak belum bayar 75% gimana jadi tidak saya kerjakan.

B: Kok gitu? Kan kata Pak Fulan asal DP masuk…

Y: Yah kalau gitu salahin saja Pak Fulan, jangan salahkan saya.

B: Kalian kan satu tim jangan saling menyalahkan dong! Ini gak Etis.

Y: Kenal aja baru, gimana bisa satu tim? Bapak yang gak Etis marah-marah sama saya. Kalau mau marah-marah sama via Bapak dong jangan sama saya.

B: Pokoknya saya gak mau tahu, deal-nya sudah gitu.

Y: Ya… setahu saya dealnya bukan gitu. Jangan make via makanya pak…

B:  Saya udah biasa make via, saya juga tidak masalah dengan penggunaan via di tiap transaksi saya.

Y: Kalau gak ada masalah, trus kenapa Bapak ke sini? Harusnya kan via-nya Bapak yang ke sini. Bukan Bapak. Ini kan berarti Bapak punya masalah dengan via Bapak.

B: *Diam Seribu Bahasa*

Kami selalu membagi hasil keuntungan kami pada para via/broker/marketing. Namun semuanya dengan sistem bagi hasil, sehingga bila rugi, rugi bersama. Bila untung, untung semua. Yang paling penting adalah hasilnya harus halal dengan prinsip keterbukaan. Mari Berbisnis ^_^

Iklan

10 thoughts on “[#7] [Bisnis] Mark Up Budaya yang Dibudidayakan di Indonesia

  1. Bahkan sampai akar rumput pun budaya mark up sudah biasa … misalnya, saat saya ada acara di kampus dan berhubungan sama jasa penyewaan sound system. Pihak sana menanyakan, apakah harga di kwitansinya mau dilebihkan atau nggak, soalnya biasanya emang begitu katanya … ckckck …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s